Headlines News :
Home » » MENGENANG MUSIBAH KEBAKARAN ISTANA BASA PAGARUYUNG PERTANDA DATANGNYA BENCANA MENIMPA RANAH MINANG

MENGENANG MUSIBAH KEBAKARAN ISTANA BASA PAGARUYUNG PERTANDA DATANGNYA BENCANA MENIMPA RANAH MINANG

Written By Kantor Berita AWDI Pers on Senin, 20 Desember 2010 | 18.34

Ada mitos yang dipercaya sebagian masyarakat Minang Kabau di Sumatera Barat, yang menyebutkan kebakaran yang menimpa Istana Basa Pagaruyung di Batusangkar Kabupaten Tanah Datar pertanda akan datangnya bencana menimpa Ranah Minang, terlepas percaya atau tidak, tapi terbukti kejadiannya demikian. Selang enam hari setelah terbakarnya Istana Basa Pagaruyung yang meluluh-lantakan Pusat Kebudayaan Minang Kabau tersebut pada 28 Februari. Kemudian pada enam Maret lalu, terjadilah bencana gempa tektonik berkekuatan 5,8 skala richter mengguncang Kabupaten Tanah Datar, Solok, Padang Panjang dan Bukit Tinggi.
Kabupaten Tanah Datar dengan luas daerah 1.336 km dengan jumlah penduduk 327.144 jiwa, mengalami dua kali bencana gempa tektonik. Gempa pertama terjadi pada 16 Februari 2004 dengan kekuatan 5,6 skala richter yang memporak-porandakan 30 Nagari di enam kecamatan di Kabupaten Tanah Datar. Dan gempa tektonik kedua, berkekuatan 5,8 skala richter, itu terjadi pada 6 Maret lalu yang meluluh-lantakan wilayah Kabupaten Tanah Datar.
Kabupaten Tanah Datar adalah pusat kebudayaan Minang Kabau yang menyimpan peninggalan sejarah Kerajaan Pagaruyung, seperti Istana Basa Pagaruyung, Batu Basurek, Batu Batikan, Sawah Satampang Baniah, Kuburan Panjang, dan Istana Linduang Bulan yang menyimpan berbagai macam peninggalan sejarah Kerajaan Pagaruyung. Sehingga tidak salah kalau orang beranggapan Kabupaten Tanah Datar adalah Pusat Kebudayaan Minang Kabau.


Negeri yang terkenal berhawa sejuk itu, sebagian besar terdiri dari daerah perbukitan yang memiliki panorama indah seperti Danau Singkarak, Tabek Patah, dan Dusun Tuo Pariangan. Setelah berakhirnya masa kekuasaan Raja Aditiyawarman, sempat terjadi kevakuman pemerintahan di Minang Kabau pada saat itu. Dan kemudian datang Sultan Alif, berkuasa datang Sultan Alif, berkuasa pada tahun 1560.
Sultan Alif melakukan musyawarah dengan kaum adat dan kaum agama yang melahirkan “Sesanti Adat Basandi Syarak dan Syarak Basandi Kitabullah”. Artinya adat bersendikan pada Al-Quran. Musyawarah tersebut juga melahirkan apa yang disebut dengan “Tungku Nan Tigo Sajarangan”, yaitu terdiri dari Ninik Mamak, Alim Ulama, dan Cerdik Pandai, dengan sistem “Tali Tigo Sapilin”, dimana ketiga orang itu punya peran penting dalam pembangunan di tengah kehidupan masyarakat Minang Kabau.
Lindungilah kami
    Tidak seorang pun yang menduga, sekitar pukul 10.49 WIB itu akan terjadi gempa tektonik berkekuatan 5,8 skala richter tersebut menimpa beberapa daerah di Sumatera Barat. Kemudian disusul dua kali gempa berkekuatan 6,1 skala richter dan 6,3 skala richter, yang berpusat sekitar Malalo pinggiran Danau Singkarak, kurang lebih sekitar 16 km barat daya Kota Batu Sangkar Kabupaten Tanah Datar.
    Jerit tangis kekuatan akibat gempa bumi itu menyelimuti kepanikan warga masyarakat Minang Kabau yang daerahnya dilanda bencana gempa. Doa mohon perlindungan kepada Tuhan terdengar di mana-mana. “Ya Allah Lindungilah diri kami dan keluarga kami dan selamatkanlah kami dari bahaya bencana ini.
    Berdasarkan data terakhir, jumlah korban dari Pemprov Sumatera Barat setelah dilakukan koreksi data, tercatat 67 orang meninggal dunia, luka berat 558 orang, dan luka ringan 373 orang. Kerusakan bangunan akibat gempa tersebut antara lain, rumah penduduk yang rusak berat 10.292 unit, rusak sedang 8.982 unit, dan rusak ringan 12.745 unit. Fasilitas umum antara lain, rusak berat 108 unit, rusak sedang 94 unit, rusak ringan 21 unit, rumah ibadah rusak berat 256 unit, rusak sedang 181 unit, dan rusak ringan 158 unit. Sekolah rusak berat 395 unit, rusak sedang 123 unit dan rusak ringan 214 unit. Gedung perkantoran rusak berat 97 unit, rusak sedang 79 unit, bangunan ruko rusak berat 324 petak, rusak sedang 31 petak dan rusak ringan 9 petak.
    Berdasarkan catatan Badan Metrologi dan Geofisika (BMG) Padang, tercatat 1000 kali gempa susulan sejak gempa pertama terjadi, tapi hanya 25 kali gempa yang bisa dirasakan manuisa. Akibat bencana gempa tersebut, menimbulkan peningkatan aktivitas Gunung Talang yang kondisinya pasca gempa dalam status waspada. (BK)
Share this article :

1 komentar:

  1. Yang penting teruslah berkarya mencari rezeki seolah kau hidup selamanya, dan banyak beribadahlah seolah kau wafat besok.

    BalasHapus

 
Support : Creating Website | Edited | Mas Template
Copyright © 2013. Kantor Berita AWDI Pers - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger