Headlines News :
Home » » Pers, Polri dan "Kemesraan"

Pers, Polri dan "Kemesraan"

Written By Kantor Berita AWDI Pers on Rabu, 26 Januari 2011 | 18.17

Kantor berita AWDI, Jakarta - Kemungkinan akan sulit tercipta rasa kemesraan, dalam sebuah hubungan yang dilakoni oleh dua lembaga yang memiliki perbedaan. Namun, tidak bagi wartawan dan polisi. Kedua lembaga ini memiliki banyak perbedaan, tetapi hubungan keduanya terus berlangsung "mesra".

Bahkan 'kemesraan' polisi dengan  wartawan sudah berlangsung lama. Hal itu bisa dijajaki dengan pemahaman pada istilah lapan enam (86) yang merupakan sandi dengan arti 'paham' atau 'mengerti'. Tetapi, kerap juga diartikan, bahkan menjadi populer istilah 86 menjadi pengganti suap atau sogok yang dihaluskan dengan sebutan 'ungkapan terima kasih'.

Banyak sekali jenis tidakan polisi yang lantas berbuah 'terima kasih'. Misalnya, meminta wartawan untuk tidak memberitakan penangkapan seorang bandar narkoba atau sebaliknya, mengekspos secara besar-besaran terhadap sebuah kasus dengan tersangka.

Si wartawan lantas diberi bingkisan 'ungkapan terima kasih' berupa amplop berisi uang, dengan harapan mau mengikuti apa kemauan polisi dalam konteks materi pemberitaan. Hasilnya, berita tidak berimbang alias versi satu sumber saja, yakni polisi.

Sering terjadi, seorang tersangka (narkoba, judi, atau perkara kriminal lainnya) sengaja diredam pemberitaannya karena si tersangka dianggap punya 'kehormatan', punya relasi dengan tokoh/pejabat tertentu, atau dikenal rajin setor tapi tertangkap tanpa sengaja.

Namun sebaliknya, seorang tersangka bisa dijadikan bulan-bulanan pemberitaan akibat jalinan hubungan 'MESRA' antara oknum polisi dan oknum wartawan. Pada tersangka yang diyakini memiliki banyak uang dan penakut, cenderung dijadikan target pemerasan. Pada jenis ini, seorang tersangka lantas dijuluki sebagai 'ATM' berjalan.

Sebagai awak media, tak kaget dengan hubungan kedua lembaga yang berbeda tapi tetap 'mesra' itu. Jalinan hubungan 'mesra' antara oknum wartawan dan oknum polisi bisa beraneka ragam. Bahkan bisa hingga menyebabkan perbedaan pendapat, hingga menimbulkan kecurigaan diantara sesama wartawan.

Jika ada seorang wartawan sedang mencecar sang pejabat polri dengan pertanyaan-pertanyaan tajam hingga membuat pejabat itu sulit menjawabnya. Terkadang ada saja oknum wartawan lainnya yang langsung nyeletuk agar pertanyaannya  tidak mempersulit pejabat polri tersebut. Biasanya ini merupakan bentuk pembelaan sang wartawan terhadap 'atasannya' dilapangan, karena kerap memperoleh lapan enam.

Kisah diatas merupakan potret kecil perihal hubungan 'mesra' oknum polisi dan oknum wartawan. Tanpa sadar menimbulkan persepsi dikalangan polisi, bahwa wartawan mudah dikendalikan. Sehingga polisi terkadang kaget, jika masih ada wartawan yang lurus dan memberitakan 'apa adanya' seperti laporan majalah berita mingguan TEMPO, pada edisi juni 2010 yang menggegerkan masyarakat Indonesia, khususnya institusi polri berkaitan dengan 'rekening gendut' anggotanya.

Banyak anggota polri  yakin bisa mengendalikan insan pers dengan lapan enam, apalagi sebagian wartawan juga kerap kebagian hasil dari sebuah 'tindakan' kepolisian. Serta berbagai kisah yang menjadi bukti kebenaran hubungan antara oknum polisi dan oknum wartawan selalu berlangsung 'mesra'.

Padahal, bentuk pembelaan terhadap sebuah lembaga bisa saja dilakukan wartawan tanpa didasari hubungan 'delapan enam'.Tetapi lebih kepada masyarakat banyak, dan hati nurani wartawan  yang bersangkutan. Karena hubungan 'mesra' dengan pola seperti itu akan menimbulkan persepsi negatif bahwa wartawan bisa dibeli. Meskipun pada kenyataannya memang seperti itu, walaupun hanya sebagian. Karena tidak semua wartawan bisa 'dijinakan' dengan delapan enam, atau berbagai bentuk upaya lainnya.

Seharusnya kedua belah pihak antara pers dan polri harus membangun hubungan kemitraan yang sejajar. Sehingga tidak ada diantara keduanya yang merasa jadi korban atau terabaikan. Karena hubungan kemitraan yang setara akan menghasilkan informasi yang akurat, edukatif dan konstruktif. Tanpa kehilangan etika, peran, dan fungsi yang digariskan pada profesi masing-masing secara mesra.    *T.Jones/PrB       
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Edited | Mas Template
Copyright © 2013. Kantor Berita AWDI Pers - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger