Headlines News :
Home » , » Surat Terbuka Mengenai Pemilihan Gubernur DKI Jakarta, 11 Juli 2012

Surat Terbuka Mengenai Pemilihan Gubernur DKI Jakarta, 11 Juli 2012

Written By Kantor Berita AWDI Pers on Kamis, 19 Juli 2012 | 13.38


 

 Kepada Yth
Teman-Teman
Sesama Warga Negara Indonesia

Surat Terbuka Mengenai Pemilihan Gubernur DKI Jakarta, 11 Juli 2012
 
Assalamualaikum,
Sebagai sesama anak Indonesia, kita punya cita-cita dan impian-impian yang sama yaitu kita inginkan bangsa kita, negara kita yang kita cintai bisa menjadi bangsa yang adil dan makmur. Bangsa dimana rakyatnya sejahtera. Kita ingin dihormati oleh bangsa-bangsa lain karena kita mampu menjadi bangsa yang beradab. Saya yakin itu cita-cita teman-teman sekalian, sama seperti cita-cita dan impian saya.

Saat ini, kita bangun setiap pagi dan melihat kenyataan, rakyat kita masih banyak yang miskin, bahwa ternyata sumber daya alam yang begitu banyak kita miliki tidak mampu kita kelola dengan baik. Bahkan yang terjadi adalah net outflow of national wealth. Mengalir keluarnya kekayaan bangsa ke luar negeri.

Sehingga walaupun kita dikaruniai Tuhan YME sumber daya alam yang begitu besar, setelah hampir 67 tahun merdeka kita belum memiliki mobil buatan Indonesia. Motor buatan Indonesia. Televisi buatan Indonesia. Bahkan sekarang ikan asin saja kita impor. Ikan teri kita impor. Batik juga sudah mulai kita impor besar besaran. 

Lantas, apa kebanggaan bangsa Indonesia? Lantas apa yang kita produksi untuk keperluan kita sendiri? Bahkan sandal saja dan celana dalam kita saja buatan negara lain.
Kalau dulu, Belanda mengejek orang tua kita, kakek kita, dengan mengatakan: “Indonesia mau merdeka? Bikin pabrik peniti saja mereka tidak bisa. Bagaimana mereka mau merdeka? Inlander-inlander goblok.”

Saya bertemu beberapa orang yang menceritakan bahwa banyak putra putri Indonesia sekarang bekerja di luar negeri. Mereka memiliki gelar PhD di bidang fisika, matematika, sekarang berkarya di negara barat, untuk kepentingan negara barat. Artinya putra putri Indonesia tidak kalah dengan bangsa lain. Tetapi kenapa seolah-olah tidak mampu menjadi bangsa yang produktif, bangsa yang berdiri di atas kaki sendiri?

Setiap tahun kita membeli 900.000 mobil. Tidak ada satu pun buatan Indonesia. Malaysia sudah lama berani membuat mobil sendiri. India yang kita pernah ejek sebagai negara miskin sekarang telah bangkit menjadi negara industri yang maju. Sebentar lagi mobil-mobil India akan membanjiri negara kita, persis seperti mobil Malaysia yang sudah ada di negara kita.

Kita seolah-olah menjadi bangsa yang bodoh. Bank-bank milik Indonesia yang susah payah telah kita sehatkan dan bangun kembali, kita biarkan dibeli oleh bangsa lain. Kita izinkan negara-negara asing mengoperasikan bank-bank di negara kita padahal mereka tidak mengizinkan bank-bank kita beroperasi di negara mereka. Tetapi elit bangsa kita diam semua.

Menurut saya, ini adalah pengkhianatan elit kepada bangsanya sendiri. Saya ingat cover story majalah Far East Economic Review tanggal 26 Juni 2003, "A Nation Betrayed: How Indonesia's Elite Are Selling The Country Short". Elit Indonesia sedang menjual negaranya sendiri.

Bayangkan sekian tahun lalu tetangga-tetangga kita sudah melihat ini terjadi. Sudah ada tanda-tanda peringatan, kita menuju negara gagal. 
Saya yakin dan percaya, kuncinya adalah kepemimpinan. Leadership. Saya dulu di tentara belajar sebuah adagium yang berlaku bagi setiap tentara sepanjang sejarah: "there are no bad soldiers, only bad commanders." Tidak ada prajurit yang jelek. Hanya ada para komandan yang jelek. 

Ada juga adagium yang diajarkan kepada saya saat saya perwira muda: "Seribu kambing dipimpin oleh seekor harimau akan mengaum semua. Tetapi seribu harimau dipimpin kambing akan embeeeek semua". Artinya saya percaya bahwa jika Indonesia dipimpin oleh lapisan elite dan kepemimpinan yang bersih, jujur, cinta tanah air, cerdas, mau kerja keras, tidak akan mau tunduk kepada dominasi bangsa-bangsa asing. Saya percaya dengan lapisan kepemimpinan seperti itu, bangsa kita bisa cepat bangkit. 

"The power of an idea whose time has come cannot be stopped by any army or any force." Kekuatan dari suatu gagasan yang sudah tiba waktunya tidak bisa dikalahkan.

Sebentar lagi, 6 hari lagi, di DKI Jakarta, ibukota negara dan bangsa kita yang kita cintai akan memilih gubernur. Sekali lagi elit kita yang korup dan bobrok memperlihatkan hobinya, memperlihatkan kecanduannya, memperlihatkan keserakahannya melakukan kecurangan dengan membuat daftar pemilih tetap yang penuh dengan nama-nama hantu. 

Relawan-relawan Jakarta Baru yang bertugas di lapangan, melaporkan masih ada sekitar 400.000 suara hantu, suara palsu yang masih belum mau dicoret oleh KPUD DKI Jakarta.
Artinya siapapun yang menguasai teknologi informasi dan menguasai proses penyelenggaraan pemilihan sudah memiliki 'cadangan' 400.000 suara kalau mereka mau gunakan. Biasanya, kalau orang bisa melakukan sesuatu kejahatan tanpa mendapatkan sanksi ataupun kalau taruhannya sangat besar, diantaranya kekuasaan yang bisa melanggengkan cengkeraman seseorang akan sumber sumber kekayaan, maka Ia akan melakukannya. 

Dengan demikian, yang dipertaruhkan 11 Juli nanti bukan hanya masa depan Jakarta, tetapi masa depan bangsa kita.
Kita sebagai cedekiawan, negarawan, masyarakat rasional, telah memilih demokrasi sebagai sistem pemerintahan terbaik dari yang ada. Tetapi ternyata elit kita masih banyak dikuasai oleh orang-orang munafik, para Kurawa yang pura-pura menjadi Pandawa. Orang-orang yang pandai dan lihai bicara, dan lebih pandai lagi melakukan akal-akalan di segala bidang.

Inilah kebiasaan kita yang jelek. Budaya menipu teman dengan muka yang tidak berdosa. Budaya ‘kutipu kau’. Budaya curang. Inilah yang melemahkan bangsa kita. Inilah yang membuat bangsa kita sampai sekarang tidak bisa lepas landas, sampai sekarang terus menjadi permainan bangsa lain. 

Relawan-relawan Jakarta Baru telah berupaya keras mengadu ke pengadilan, polisi, dewan kehormatan penyelenggaraan pemilu. Saya berharap upaya-upaya rasional tersebut bisa ada hasilnya.

Jika sekali lagi pemilihan umum dilakukan dengan cara yang curang, dan kita tidak dapat membendungnya, ini akan membahayakan demokrasi. Dan jika demokrasi tidak berfungsi, alternatifnya sungguh berbahaya.

Yang kita minta tidak lebih dan tidak kurang adalah proses yang bersih, proses pemilihan yang rasional, masuk akal, jujur dan transparan. Demokrasi prasyaratnya adalah proses pemilihan pemimpin-pemimpin yang bersih dan jujur. Fair play akan menghasilkan suasana yang dewasa, aman, rukun. Dan kerukunan itu, kedewasaan itu akan menimbulkan harmoni di masyarakat. Dan harmoni di masyarakat adalah syarat mutlak untuk keadaan damai. Keadaan damai adalah syarat mutlak bagi kemakmuran suatu bangsa. 

Tidak mungkin kita capai kemakmuran, kesejahteraan tinggi, tanpa adanya kepercayaan, ‘trust’ dari rakyatnya kepada elitnya.
Sekarang rakyat Indonesia mulai kehilangan trust kepada elitnya. Jika ini dilanjutkan, yang kita risaukan adalah masa depan bangsa Indonesia.

Saya mengimbau seluruh warga negara Republik Indonesia, marilah kita di hari-hari menjelang 11 Juli ini, mengintensifkan komunikasi kita satu dan yang lain. Mari kita selamatkan demokrasi kita tanggal 11 Juli 2012 ini. 
Wassalam,



Prabowo Subianto
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Edited | Mas Template
Copyright © 2013. Kantor Berita AWDI Pers - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger